Jumat, 11 Maret 2011

Ketemu Teman – Teman SMA di RS Cikini


Waktu telah menunjukan pukul 12.00 WIB,pada hari Kamis 10 Maret 2011, ketika acara “Round Table Discussion On Political Situation In The Middle East” di Gedung Majelis Ulama Indonesia (MUI), Jl.Proklamasi,Menteng, Jakarta Pusat, baru saja usai aku ikuti. Ada beberapa nara sumber yang sebenarnya ingin aku wawancara ketika itu, namun karena sudah janjian untuk menjenguk rekan satu SMA yang sedang sakit di RS Cikini, Mas Budi Kantong (begitu biasa kami memanggilnya, padahal nama sebenarnya cukup bagus Budianto-red) akhirnya segala wawancara aku serahkan kepada rekan satu timku, kebetulan aku sendiri sudah mengambil moment  beberapa sesi penting, termasuk para tokoh yang hadir, tidak luput dari jepretan kameraku...aman. Maka dengan terburu-buru akupun segera meluncur ke RS Cikini, berboncengan motor dengan temanku yang lain.
            Memasuki gerbang RS Cikini,ditengah suasana yang begitu terik, beberapa kali aku bertanya sama satpam ruang, K nomor 3 dimana rekan SMA ku Mas Budi dirawat, sebagaimana sms dari rekan-rekanku semalam. Suasana agak ramai karena pas jam besuk, setelah menyusuri lorong-lorong, sesekali melihat setiap ruangan, dengan bangsal berjajar dengan rapi, akhirnya ruang K nomor 3 bisa aku temukan.
            Mba Ning Hartati lebih dahulu sudah ada disana terlihat sedang ngobrol dengan beberapa kerabat Mas Budi, tampaknya baru sampai juga. Pada mulanya aku maupun Mba Ning juga sama-sama pangling, saya pikir juga kerabatnya Mas Budi. Namun setelah memperkenalkan diri rekan satu SMA, kami baru tahu.   
            Senyum Mas Budi masih seperti dulu, dalam kondisi sakitpun tidak terlihat sedih, masih seneng ngobrol dan suka bercanda. ‘Pangling’ (bahasa Jawa,agak lupa-red) lagi-lagi itulah hal pertama kami saling ketemu, setelah sekian puluh tahun kami tidak saling ketemu.          
            “Mas Budi sudah terlihat cerah dan agak mendingan, tapi tolong HP-nya jangan dilihatin, nanti Mas Budi minta, maunya nelpon terus ”kata salah seorang kerabat Mas Budi, ketika kami akan masuk. Kemarin ngamuk, pinginya minta nelpon terus, lanjut kerabat yang lain. Dari informasi kerabat tersebut bahwa Mas Budi sudah lima hari dirawat di RS.Cikini, ‘Gagal Ginjal’, dan harus menjalani cuci darah.
            “Mas Budi, orangnya gak bisa diam, kata salah seorang lelaki yang juga kerabat Mas Budi. Kalau sudah olahraga gak inget waktu, senengnya main badminton terkadang sampai larut malam, mungkin kecapean,”lanjutnya.
            Tidak beberapa lama, datang rombongan lagi, dari jauh aku mengenal wajahnya, Mas Sobingin, Imam dan dua orang lagi aku rada pangling, setelah salaman dan guyonan ala Gombong, aku baru ngeh, ternyata Mas Sasongko (yang baru saja nelpon tadi pas aku dijalan - red) dan Mas Sumar.
            Suasana semakin riuh, Mas Budi tampak senang, senyum khasnya terus mengembang. Tidak beberapa lama kemudian datang satu rekan lagi, Mba Daya Wikarti, dari sosok dan penampilanya yang khas tinggi dan tegap dari jauh sudah bisa dikenali. Bahkan beberapa rekan pada berbisik-bisik,“coba biarin, jangan ditegur dulu, pangling apa tidak”.
Namun wajah Mas Sobingin yang sudah popular, rupanya mudah dikenali pula, maka spontan gaya dan sapaan khas Gombongpun keluar juga. Suasana tambah meriah, apalagi gaya dan canda Mba Daya, Mas Imam dan Mas Sasongko, semakin mengingatkan suasana ketika kita masih di-bangku SMA dulu, tambah gayeng.
            Tidak terasa waktu begitu cepat bergulir, dari jauh dua sosok lelaki berpakaian seragam biru dongker, petugas keamanan RS Cikini datang, menegur kami semua, “Maaf, ya jam besuknya sudah habis, silahkan menunggu diluar,”kata petugas keamanan, sembari mempersilahkan kami semua segera meninggalkan ruangan tersebut. Aduh.......???
            Ketika akan berpamitan, tampaknya Mas Budi sudah mulai ngantuk, tertidur, akhirnya kami pamitan sama kerabat yang menunggunya, menurut informasi istrinya sedang mengurus surat-surat, jadi kami semua tidak ketemu dengan istri Mas Budi.
“Mas Budi sudah dikaruniai tiga orang anak, begitu informasi dari salah seorang kerabat, maklum sudah sekian lama baru pada ketemu, hal pertama yang ditanyakan biasanya ya, jumlah anak.
            Sebelum meninggalkan ruangan,...kami semua berdo’a untuk kesembuhan Mas Budi......’Ya, Alloh berilah kesembuhan dan angkatlah penyakit yang ada pada sahabat dan rekan kami ini. Berikanlah kesabaran dan ketabahan. Mudah-mudahan dibalik semua ini, ada hikmah yang lebih baik bagi diri Mas Budi dan keluarganya,”Amiin.

Bangku Taman Menjadi Saksi

            Setelah diusir secara halus oleh pihak keamanan RS Cikini, akhirnya kami menyingkir keluar, padahal kami masih pada kangenan, apa tega pada mau langsung pulang, dalam hati kami masing-masing. Akhirnya kami sepakat untuk mencari tempat nongkrong. Ditaman RS Cikini, kebetulan ada bangku, dibawah sebuah pohon cukup rindang didepanya terhampar rumput halus, rupanya pihak manjemen RS Cikini, cukup jeli dalam mengatur taman, tertata cukup  rapi..
Disitulah kami duduk-duduk, menumpahkan rasa kangen yang sudah sekian puluh tahun terpendam, ngobrol ngalor – ngidul, sesekali banyolan, kelakar dan guyonan segar meluncur dari kami semua, suasanapun semakin meriah.
Wah, ini sejarah dan moment yang bagus, akhirnya beberapa kali jepretan mengabadikan kami semua, macam-macam ulah dan gayanya, maklum ketemu temen lama..
  Ditengah kami sedang asyik-asyiknya ngobrol, lagi-lagi petugas keamanan berseragam biru dongker datang lagi. Eh...ternyata beberapa orang diantara kami ada yang merokok, petugas menegur bahwa ini area/kawasan bebas rokok, “Dilarang Merokok”. Wah, untung cuma ditegur, kalau didenda suruh bayar dan kena pasal berabeh dah........(kalau tidak salah Mas Sasongko dan Mas Imam yang merokok, ya......). Biasa gaya 87-an masih dipakai,.....!!!
Karena ada kepentingan, Mas Imam terlebih dahulu pamitan, teganya beliau meninggalkan kami semua, lambaian tangan kami semua mengantar kepergian Mas Imam, sembari disaksikan bangku taman dan hamparan rumput hijau, seolah ikut merasakan kerinduan yang ada pada diri kami masing-masing.
Tidak beberapa lama Mas Imam pergi, datang dua rekan lagi Mas Udang dan Mas Sobari. Kali ini Mas Sumar tampak lebih bersemangat, karena kami semua tahu bahwa dua sahabat kami ini, terutama Mas Sobari sejak dulu sangat dekat dengan Mas Sumar.
Suasana tambah semakin meriah, apalagi dari jauh Mas Kasiman (tinggal di Bandung) pingin ikut nimburng juga, walaupun cuma lewat handphone. Kemerihanan semakin menjadi ketika terjadi joke segar dan deal-deal antara Mas Kasiman dari seberang sana dan Mas Sasongko, biasa lagu lama..........kelakar rekan-rekan yang lain.
Hari Kamis, tanggal 10 Maret 2011, bertempat di RS.Cikini, Jakarta Pusat, semoga rekan-rekan dan sahabat-sahabat semua juga tidak lupa mencatatnya dalam buku diary/harian masing-masing. Sejarah telah menentukan bahwa hari itu kami semua bisa bertemu dalam suasana, antara sedih dan bahagia. Sedih, karena salah satu dari rekan dan sahabat kami sedang mendapat ujian dari Tuhan YME, menjalani perawatan di RS Cikini ini, semoga lekas sembuh, dan diberi kekuatan.
Dan bahagia, karena sudah sekian puluh tahun, tiba-tiba seperti mimpi, kami semua bisa bertemu, berkumpul dan saling bercada, guyonan (persis seperti masa lalu) ditempat seperti ini yang tidak pernah direncanakan sebelumnya, apalagi melalui rapat dan undangan, hanya spontanitas lewat sms, facebook saja.
Dan bayangkan saja diantara kami yang hadir saling berjauhan tempat tinggalnya, Mas Sobingin dari Karawang, Mas Sumar dari Purwakarta, Mas Sasongko dari Bekasi, Mba Ning Hartati, dan Mba Daya juga langsung dari Bekasi, rela mencari alasan izin dari tempatnya bekerja. Sedangkan aku, Mas Imam dan Mas Udang dari Jakarta Timur dan Mas Sobari dari Mangga Dua,Jakarta Utara, juga langsung dari tempat kerjaanya.
Inilah rahasaia dan kehendak Yang Maha Kuasa, kita sebagai hambanya hanya bisa berusaha, bersyukur dan menjalaninya. Alhamdulillah. * (catatan kecil Mas Ratman)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar