Selasa, 11 Juli 2023

Tulisan Inspirasi dari RB Asah Asih Asuh, Masuk Nominasi dalam Antologi Aku, Buku, dan TBM



Sebagai seorang kurator, kami membaca satu per satu tulisan yang masuk untuk Antologi Aku, Buku, dan TBM. Naskah yang kami terima sebanyak 202 naskah, ditulis oleh relawan, pengelola TBM, siswa, mahasiswa, guru, dosen, serta pemerhati literasi. Tema serta kualitas tulisan pun sangat beragam. Namun ada benang merah yang kemudian menghubungkan tulisan satu dengan yang lainnya, yaitu pengalaman “Aku” yang bersentuhan dengan “TBM” baik sebagai pendiri yang kemudian menceritakan proses mendirikan TBM atau terinspirasi ketika main ke TBM kemudian mendirikan TBM, ada pula yang dari kesadaran akan rendahnya minat baca serta pola pendidikan di daerahnya. Selain itu, ada pengalaman yang unik dari pengelola TBM yang awalnya sama sekali tidak bersentuhan dengan buku atau literasi, kemudian diajak ke perpustakaan ketika di Singapura oleh majikan (dalam konteks penulis ini sedang bekerja di Singapura dan Taiwan) saat mengasuh anak. Setelah memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya, ia mendirikan TBM. 

Benang merah lainnya yang menghubungkan tulisan satu dengan yang lainnya adalah “Aku” dan “Buku”. Seorang penulis banyak terinspirasi oleh buku yang kemudian mendirikan TBM. Selain itu, buku sebagai sumber informasi serta ilmu banyak mencerahkan para penulis yang kemudian tersadarkan untuk bergerak memberikan edukasi di masyarakat terkait pendidikan, literasi, dan lain sebagainya. “Aku” yang bersentuhan dengan buku, banyak pula diceritakan oleh penulis dari sudut pandang orang pertama yang menceritakan “ia” atau “beliau” sebagai orang ketiga yang banyak membaca buku di TBM. Serta banyak menceritakan anggota yang kemudian menjadi relawan di TBM. Dan masih banyak cerita yang lainnya. 

Keberagaman dari tema serta kualitas tulisan tidak mempengaruhi dari esensi Antologi Aku, Buku, dan TBM, mengingat penulis dari latar belakang yang beragam. Artinya dalam antologi ini tidak semua seorang penulis. Dan kami sangat mengapresiasi tulisan-tulisan yang masuk untuk antologi Aku, Buku, dan TBM yang diselenggarakan oleh Pengurus Pusat Forum TBM. 

Dari 202 naskah yang masuk, kami mempertimbangkan beberapa hal terkait administrasi kelengkapan karya (tulisan) serta tema, kemudian terkurasi sebanyak 126 naskah dari dari berbagai penulis di Indonesia diantaranya: 

Any Anggorowati (Griya Baca Jelita)
Dian Nur Eka (TBM Al Banna)
Hanan Wiyoko (TBM Bawor)
Siti Munfarijah (TBM Mekar Ilmu)
Rasman Maulana (Cipta Gembira)
Hary Setyawan (Taman Bacaan Griya Sketsa)
Diyah Wihartati (TBM Kejujuran)
Bambang Unonk (TBM Jagatweda)
Gusti Ayu Putu Sekar Asri, A.Md (TBM SKB Ajibarang)
Muhammad Khudri Syam (Rumah Pustakata Kelara)
Akfaraa Nisa (Tarakan)
MUHAMMAD SIDQI IRSYADI (SANGGAR TAMAN MRAEN MIMPI)
Fitri Novita Sari (Taman Baco Atap Rumbe)
Rhendivan Pasaribu,S.Pd.Gr. (TBM Insan Cita)
Atet Awaludin (TBM Mentari Fajar)
Asep Ajat Sudrajat, S.Fil.I (TBM Kotabitu Alfarabi)
Eva Dwi Kurniawan (Universitas Teknologi Yogyakarta)
Arif Prasetyo (Forum TBM Lampung)
Arbi Zulham (TBM RUANG BACA BAMBU)
Anis Hidayati (Rumah Baca Al Khumaira)
La Ode Alimin., S.IP., M.H (Pegiat Literasi Pulau Buru)
Vera Verawati (TBM Pondok Kata RZ)
Umihayete (Pondok Baca Harumi)
Luqyana Azmiya Putri (Rumah Baca al-Barokah)
Sitti Ramlah (Tbm Macora)
Erika Zalianti (Sigupai Membaco)
Sofia Ulfa (TBM IQRO)
Umi Seta Woro Librestri, S.Pd (Kampung Dongeng Kota Metro)
Sukman Andrianto (Pegiat Literasi Sukabanjar)
Sintia Dano Mas’ud (TBM Rumah Baca Kreatif)
W. Suratman (Rumah Baca Asah Asih Asuh)
Nita Juniarti (Sigupai Membaco)
Misroni (TBM TABAKAMCIL)
Arita Murti (Rumah Baca Prabu Kresna)
Nurlelawati (Taman Baca Mandiri SN)
Ir. Neni Utami Adiningsih, MT (Rumah Literasi ALIF Cileunyi)
Abdul Warits (Pegiat Literasi Sumenep)
Fahrullah (Perpus Jalanan Baca Kami)
Azizah A K (Kepala Sekolah di SDN 006 Liuk Kecamatan Siantan Tengah Kabupaten Kepulauan Anambas)
Fadila (pengurus dan relawan 1001buku)
Kiki Masduki (TBM Semesta Hikmah)
Akhmad Suprianto (Rumah Baca Lintas Literasi)
Tety Triyana, S.Pd. (TBM Rumah Baca Pustaka Redila)
Susilawati (Wali Baca dan Relawan TBM Lentera Pustaka)
PARIMIN (TBM Pos Baca Aman Panican)
Wahyuni (guru di SD Inpres 116 Johsiro di kabupaten sorong selatan)
Akmal, S. Pd., Gr (Pendiri TBM Jelemuk)
Laila (Rumah Baca Kaila)
Rahmiana Rahman (Pustaka Kampung Impian)
Syahrir Ramadan Umar (TBM Rumah Kreatif Sahabat Nusantara)
Melda Ria Sinembela (TBM Merah Muda)
Riadi (TBM Pustaka Lazuardi)
Fajrin Nurpasca (Pegiat Literasi Jambi)
Nuriana, S.Pd (TBM Aneuk)
Eva Priscila Konjol (Rumah Baca Cenderawasih)
Wasto Pujawiatna (TBM/TPQ Annisa)
Annisa Maharani Nasran (TBM Fitrah Berkah Insani)
Dian Kusumawati, S.P. (TBM Cinta Baca)
Sry Eka Handayani (Rumah Baca Anak Nagari)
David Perdana Kusuma dan Mahiang (ASN Kabupaten Lamandau)
Sadan, S.Pd. (TBM Kreatif)
MELA SAFITRI (RUMAH BACA SAKAI SAMBAYAN)
Sri Wahyu Utami (TBM Rumah Peradaban SNC)
Safrudiningsih (Taman Bacaan Bukit Duri Bercerita)
Yayank Maulana (Rumah Baca Ola Saka)
Siti Mariyam (Komunitas Pustaka Kampunk)
Budi Susilo (Omah Buku)
Syarifudin Yunus (TBM Lentera Pustaka)
Tasya Febrianda (TBM Sigupai Membaco)
Djoe Taufik (Pustaka Terbang)
Munasyaroh Fadhilah  (TBM Bintang Brilliant)
Elis Solihati (pengurus Forum TBM Kota Tasikmalaya)
Muhammad Ghufron (Komunitas Kutub)
Dina Marlita (TBM Rumah Tukik Anyer)
Fauzan Asrori (TBM Griya Jejama)
Mardianti (TBM Oo Mantika)
Tri Sudaryani (TBM Gubuk Pintar)
Taufik Rahman (Gubuk Literasi Setu)
Mahniar  Sinaga, M. Pd. (Kepala Sekolah SDIT Ar-Raudah Medan)
Hirawati (TBM Ceria Jatibening)
Akhmadi Sumaryanto (Forum TBM Kab. Tanggamus)
Lintang Ayu Saputri (Pegiat Literasi Lampung Timur)
Jacesika (TBM Nusantara)
Redemptus De Sales Ukat, S.Fil (TBM Oan Lidak)
Yoni Elviandri, SP (TBM Lentera Muda Kerinci)
Nur Intan Wiyati (TBM Bintang Briliant)
Ahkam Moriana (TBM Mitra Bakti Edukasi)
Mirra Elviana Wati (Rumah Literasi Soriutu)
Yuli Kismawati  (TBM Tunas Harapan)
Hifni Djafar ( TBM.Rumah Kreatif Sahabat Nusantara)
Basrul Idrus (TBM Vespa Literasi
Alya Amira Asshifa (TBM Sigupai Membaco)
Ria Andelia (TBM Sigupai Membaco)
Jauhari Tantowi (Pesisir Juang)
Fauziah Retno Hartika (Rumah Baca Pustaka Redila)
Putri Utami Dewi Ningtyas
Rita Mf Jannah (Praktisi Pendidikan)
Wikke Priyantini (Rumah Baca Maryam)
Endah Turlina (TBM NURUL HUDA)
Iswadi Syahrial Nupin (Pemerhati Taman Bacaan Masyarakat)
Maftuhan (TAMAN BACA RUMAH KREATIF)
Rizka (TBM Desa Suyadon)
Nafisah  (Omah Baca dan Sanggar Belajar Nur Mizan)
Edi Dimyati (Kargo Baca)
Arif S. Santoso (TBM Tunas Ilmu)
Vira Ayu Safila (Pustakaloka Cendekia)
Yunita Nurmalasari (Teras Baca Lentera Cita)
Mimin Mintarsih (Taman Baca Mas Ramongga)
Indira Ratih, S.Pd. (TBM KuDa)
Ruyanti (TBM Kent)
Neni Anglaeni (TBM Bacetrak)
Gresela Titiahy (Pinjam Pustaka)
Meike Sri Rahayu (Komunitas Ngejah)
Sri Kurnawati, S. Pd. (TBM Kasih)
Pretty Christina (Buku Untuk Papua)
Letter MA (TBM Rumah Baca Taka)
Moh Syaiful Bahri (Pegiat Literasi)
Susilowati, S.Pd. (TBM Doa Ibu)
Enny Asrinawati (TBM Lisan)
Amus Atkana, S.Pt.,SH.,MM. (TBM Cenderawasih)
andre monoarfa (Guru di Papua Barat Daya)
Aikoi candra pratiwi (TBM Cenderawasih)
Ani Ratna (TBM Ceria Asyiyah)
Annaba Tri Siti Fadillah (Komunitas Ngejah)
Anisa Isti Yuslimah (Rumah Baca Taman Sekar Bandung)

Demikian nama-nama yang akan masuk dalam Antologi Aku, Buku, dan TBM. Adapun nama-nama di atas akan ada pertemuan secara daring dengan tim kurator serta akan dibagi menjadi 3 kelompok yaitu Barat, Tengah, dan Timur. Selamat untuk nama-nama yang terpilih, tetap semangat untuk yang belum dapat masuk dalam Antologi Aku, Buku, dan TBM tahun ini. Salam.

sumber : http://forumtbm.or.id/antologi-aku-buku-dan-tbm/ 

Kamis, 02 Juni 2022

Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah Menginventarisasi Sastra Lisan Maca Babad Pasir Luhur di Dusun Cibun, Banyumas

 

Banyumas, balaibahasajateng.kemdikbud.go.id — Kelompok Kepakaran dan Layanan Profesional (KKLP) Pelindungan dan Pemodernan Bahasa dan Sastra, Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah (BBPJT), menyelenggarakan inventarisasi sastra lisan di Dukuh Cibun, Desa Sunyalangu, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas. Inventarisasi sastra lisan tersebut merupakan salah satu rangkaian untuk merevitalisasi sastra lisan di Kabupaten Banyumas.

Koordinator KKLP Pelindungan dan Pemodernan Bahasa dan Sastra BBPJT, Shintya, M.S., mengatakan bahwa tim datang ke Dusun Cibun untuk melaksanakan program revitalisasi bahasa dan sastra daerah. Revitalisasi difokuskan pada objek sastra lisan yang hampir punah.

“Pada tahun ini Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah akan merevitalisasi sastra lisan yang ada di Banyumas, yakni sastra lisan Maca Babad Pasir Luhur,” kata Shintya dalam rilisnya pada Selasa, 31 Mei 2022.

Menurut Shintya, akan dilakukan program revitalisasi di Dusun Cibun, Desa Sunyalangu, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas, yakni Maca Babad Pasir Luhur. Kegiatan maca babad tersebut berada di ambang kepunahan.

“Untuk itu, kami tim KKLP Pelindungan Sastra BBPJT pada tahap ini melakukan tahapan inventarisasi sastra lisan. Kegiatan ini dilaksanakan untuk mengetahui daya hidup sastra lisan maca babad yang maestronya sudah meninggal,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Komunitas Maca Babad Pasir Luhur, Puji Irawan, menyatakan ungkapan terima kasih karena ada pihak-pihak yang peduli dengan budaya maca babad. Dengan adanya kepedulian dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah yang bekerja sama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Universitas Jenderal Soedirman (LPPM Unsoed) Purwokerto, dia berharap budaya yang ada di Dusun Cibun tidak musnah.

“Apabila maca babad atau nembang kami selama ini kurang, kami sangat senang jika ada pihak-pihak yang peduli mengajari kami. Kami berharap budaya asli di dusun kami tetap lestari,” ungkap Puji.

Nisa Roiyasa dari LPPM Unsoed mengemukakan bahwa pihaknya selama ini telah terjun langsung untuk melestarikan sastra lisan Maca Babad Pasir Luhur yang mulai langka. Pihaknya juga telah mengajak anak-anak dan generasi muda untuk mulai mengenal dan mencintai budaya sendiri serta melestarikannya.

“Kami berharap dengan dukungan Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, akan lahir generasi penerus yang mampu melestarikan dan mengembangkan budaya luhur ini, yakni Maca Babad Pasir Luhur. Anak-anak akan dilatih maca babad ini,” tandas Mbak Nisa, panggilan akrab Nisa Roiyasa.

(sumber : Balai Bahasa Jawa Tengah)

Selasa, 17 Desember 2019

Rumah Baca Asah Asih Asuh Menjalin Kerjasama dengan Yayasan Al Ahya

DEPOK - Rumah Baca Asah Asih Asuh, terus mengembangan jejaring, untuk pengembangan dalam rangka mgerakan literasi.

Diakhir tahun 2019 ini, Rumah Baca Asih Asuh menjalin kerjasama dengan Yayasan Al Ahya, untuk membuka rumah baca.

Hal ini disampaikan oleh pendiri Rumah Baca Asah Asih Asuh, W. Suratman, bahwa kit terus brgerak untuk mengembangkan kegiatan literasi ke berbagai daerah. Untuk akhir tahun 2019 ini, kita mencoba menjalin kerjasama dengan Yayasan Al Ahya.




Senin, 22 Agustus 2016

Sabtu, 18 Juni 2016

Catatan Ringan Mba Didiek

Kita terkadang sok pinter, merancang segalanya dengan pola pikir kita sendiri. Ketika Alloh SWT berkehendak lain, kita kecewa berat.

Padahal, sebenarnya, kehendak Alloh justru akan menyelematkan kita ke arah nasib yang lebih baik. Rahasia Alloh memang seringkali tak sesuai dengan perhitungan matematis kita.

Tapi, percayalah, selamnya Dia yang lebih benar, dan Maha Berkehendak. (*)


ORANG KUAT 

Orang yang kuat itu bukan mereka yang memiliki otot-otot yang besar dan tubuh yang kekar. Tetapi mereka yang mampu menolak iming-iming kenikmatan yang tak halal, yang ditawarkan dengan berbagai rayuan. (*)


Cijantung, 18-JUNI-2016


Senin, 23 Februari 2015

Entahlah...



Februari 2015, mendung menggelayut di bumi pertiwi, republik negeriku. Lembaga sekelas KPK yang merupakan benteng terakhir pertahanan pemberantasan korupsi, porak poranda.

Entahlah, apakah ini memang sudah takdir, atau ada tangan-tangan yang usil tak ingin KPK kokoh.
Entahlah, sebagai rakyat dan anak petani miskin, aku hanya mendengar samar-samar, simpang siur, bunyi berisik, dari sana - sini, tak paham.

Entahlah, apa yang akan terjadi kedepan, angin semakin kencang bertiup, burung-burung semakin nyaring berkicau, serangga malam saling saut-menyaut menambah berisik.

Aku dan ratusan juta rakyat negeri ini, sudah muak dengan segala bunyi-bunyi berisik, seperti ini. Aku hanya ingin merebahkan tubuhku diatas dipan bambu, hanya sekedar melepas lelah, setelah seharian bergumul disawah dan ladang tempatku mencari nafkah.

Untuk sekedar menikmati mimpi, tentang negeriku yang aman, damai, adil, makmur dan rakyatnya sejahtera. Akupun cukup bahagia, walaupun hanya sebatas mimpi.

Cijantung,
Jakarta, 18-Februari-2015
-- Ratman Aspari --

Mereka Tak Lagi Bersahabat



Aku tak sanggup lagi menatap gunung, hutan dan lautan,
Sahabat yang dulu ramah,
Kini seolah sudah berubah,
Mereka tidak lagi memberikan kedamaian,

Gunung yang menjulang, selalu mendekapku dari sengatan mentari pagi,
Hutan yang menghijau, nan elok untuk dipandang,
Desir ombak dan gelombang dilaut, yang selalu menari-nari menghiburku,
Kini semua itu hilang, tak ada lagi canda tawa dengan mereka sahabatku,

Aku terpekur, merenung, anganku melayang kembali ke masa silam,
Mengingat ayahku,mencangkul,membajak dengan kerbau,
Sahabatku si pelaut menangkap ikan dengan jaring,
Nenek tua ditepi hutan memungut daun jati,

Semua berjalan sangat alami,
Tidak ada rasa iri, dan dengki kepada sesama,
Saling melindungi, saling memberi,
Keseimbangan alam, terasa damai,

Atas nama modernisasi dan teknologi,
Semuanya berubah, manusia semakin serakah,
Deru mesin, dan cairan kimia,
Memberangus dan melululantahkan, kehidupan mereka,

Aku semakin rindu pada sahabatku,
Semoga ini semua belum terlambat,
Diakhir sisa umurku,
Aku ingin melihat sahabat alamku, kembali seperti masa lalu.

---------------------------------------------
Cijantung, 14 Oktober 2014
Ratman Aspari

Minggu, 08 Desember 2013

sajak dalam duka

 dalam duka (I)

angin, sepi dan mimpi mimpi, adalah sahabat setia,
yang selalu siap untuk diajak bercanda dalam duka,
di kamar pengap segelap pelataran neraka.

ada jendela kecil untuk menyaksikan indahnya taman surga
tapi tak selamanya terbuka, lantaran derita yang mencekam
terkadang melumatkan kedekatanku kepada-Nya.


dalam duka (II)

rembulan senja belum mampu menampakan wajahnya yang pucat kelelahan.
langit hitam masih mengepung dari semua yang pengab.

angin yang lewat tak begitu jelas meniupkan kabar apa, kiamat bakal segera tiba,
atau mukjizat tentang kesembuhan seorang tua yang tengah tercekik kesakitan dalam kesendirianya.

semua rahasia serba rahasia. dan hanya Dia yang tahu segalanya.



Sabtu, 12 Oktober 2013

Kumpulan Catatan Mbah Ddidek

DUKA PANJANG KAUM PINGGIRAN

Lapar dirangkulnya erat-erat sepanjang perjalanan.
Dahaga menjadi kerabat setianya.
Dalam sepi belum juga ditemukan orang-orang yang peduli.
Mereka berjalan terus mengejar mimpi yang tak kunjung berhasil disalami.

Sahur dan bukapun tak hapal diotaknya yang beku oleh penderitaan.
Si buta yang mengemis di jalan-jalan,
Kaum papa yang berteduh di kolong-kolong jembatan
Dan kambing-kambing yang melacur di rel-rel kereta,

Merekalah yang sudi menyatukan diri,
Rame-rame,
Meneriakan pekik kemanusiaan
"Merdeka, atau Kami harus mati".

Kata-Kata Hikmah

17 Juli 2013 pukul 4:57
Kata-kata yang terlanjur terucap dan terasa menyakitkan,
Kesalahpahaman yang terumbar bagaikan fitnah,
Ucapan lancang yang membuahkan kepedihan,
Nasehat-nasehat yang lahir seperti menggurui,
Kegembiraan berlebihan yang melahirkan kegaduhan,
Prasangka-prasangka yang mengalir tanpa aturan,
Berbagai petingkah yang menyebalkan,
Kekhilafan-kekhilafan yang membuat suatu janji dan harapan menjadi terhalang untuk diwujudkan,
Ketidakselarasan yang tertafsir sebagai pengkhianat,
Gurauan yang terterima sebagai keglauan,
Langkah-langkah brutal yang membuat orang lain menjadi tidak nyaman,
Sikap egoisme yang belum sepenuhnya berhasil kami padamkan.
Mohon diamaafkan lahir batin pada suasana yang penuh rahmat dan ampunan ini.
Kedepan semoga tak terulang lagi.
Semua diharapkan akan menjadi lebih jernih dan kian indah.
Selamat menjalankan Ibadah Puasa.....

HIDUP BELUM BERAKHIR

17 Juli 2013 pukul 5:12
Sia-siakah sisa hidup mereka
Dengan sepenggal nafas
Dan darah yang masih mengalir
Darah merah darah putih
Menandai hayat tak pernah letih

Sepanjang jalan dari hulu kehilir
Semerbak mawar melati
Harumnya yang mereka hirup
Membuat jiwa beku menjadi cair
Memaknai hidup yang belum berakhir








Jumat, 11 Oktober 2013

Runtuhnya Gerbong Keadilan


  



 Oleh : W. Suratman *)

IBARAT - Sebuah panggung yang menyajikan pertunjukan, para penonton tentu akan semakin nyaman dan berselera ketika di-suguhkan sebuah pertunjukan yang baik. Lantas batasan pertunjukan yang baik itu sendiri tentu  sangat  tergantung pada pribadi masing-masing. Namun kita semua tentu akan sepakat, bila pertunjukan itu menyejukan, dan paling tidak ada unsur mendidik, dan memiliki pesan tentang nilai-nilai kemanusiaan, termasuk moral, etika dan estetika juga ada didalamnya, tidak semata-mata menghibur begitu saja. Tentu kita tidak keberatan untuk mengacungkan jempol, pertanda menaruh tanda suka pada pertunjukan tersebut.

Begitu juga dengan Republik yang kita cintai ini, negeri bernama Indonesia, seharusnya Sang Raja dibalik istana dan para punggawa yang bertahtah di kursi kekuasaan mampu menyajikan sebuah melodrama pertunjukan yang sejuk, dan memberikan semangat kepada rakyatnya, sehingga rakyat merasa terhibur, termotivasi yang pada giliranya menjadikan pemicu semangat dalam berkarya.

Namun sayang, sampai detik-detik akhir kekuasaanya, rezim yang bertengger di kursi kekuasaan yang tinggal sejengkal, belum menunjukan tanda-tanda yang menggembirakan bagi semua pihak, terutama bagi rakyat kecil, kalangan bawah, utamanya para petani, buruh, nelayan dan lain-lainya.

Apalagi dalam hari-hari terakhir rakyat disuguhkan sebuah drama pertunjukan yang cukup memuakan, andai saja ini benar, maka kita sebagai rakyat tidak cukup hanya mengelus dada, sembari geleng-geleng kepala. Tentu yang kita akan lakukan adalah, mengepalkan tangan, sembari bersumpah serapah. Hari ini kita menyaksikan runtuhnya kepercayaan rakyat kepada para punggawa keadilan.

Betapa tidak seorang yang memimpin lembaga hukum, yang tentu saja sangat paham akan hal ihwal tentang aturan mana yang salah dan mana yang benar, justru tertangkap basah di-duga terlibat dalam kasus suap, sampai-sampai ruang kantornya disegel, berarti ruang kantor itu kotor secara hukum. Sungguh sebuah pertunjukan yang memuakan, dan sangat menyesakan dada bagi kita semua.

Kita muak, dengan petingkah para punggawa yang berlindung dibalik baju kebesaranya, tetapi sejatinya justru mengkorup uang rakyat. Betapa pedih dan sesaknya dada kita, ketika menyaksikan realita bahwa hukum yang selama ini diagung-agungkan sebagai panglima, ternyata tidak berpihak sama sekali terhadap rakyat kecil.

Runtuhnya gerbong keadilan ini, tentu  bukan sebuah kebetulan, sebagai seorang yang beragama tentu kita sangat percaya akan campur tangan Sang Pengatur Alam Semesta.

"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema'lumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih (QS.Ibrahim : 7). Begitulah dengan sangat gamblang tertulis dalam Kitab Suci Al Qur'an,yang harus kita yakini.

Ketika rakyat kecil seolah sedang sekarat, akibat didera oleh berbagai persoalan, terutama untuk memenuhi kebutuhan hidup kesehariannya yang begitu berat. Namun seorang punggawa institusi hukum yang begitu terhormat, dengan gajinya ratusan juta, andaikan semua ini benar, masih terlarut dalam permainan upeti dan sogok, maka ini semua tentu bukan sebuah kebetulan, Sang Pemilik Alam Semesta murka, melalui Keperkasaanya, dengan mudahnya  mencabut nikmat dan menghinakanya, dari yang semula di-panggil 'Yang Mulia menjadi Yang Tersangka.'

Sampai-sampai Sang Raja tergopoh-gopoh, dipanggilnya para punggawa kerajaan, dikumpulkan untuk mendengarkan wejangan Sang Raja di istana. Entah apa yang diwejangkan Sang Raja, hanya terdengar sayup-sayup.

Para abdi dan pelayan istanapun dibuat sibuk, tidak sepatah katapun yang terucap dari para abdi dan pelayan itu, mereka sibuk menyiapkan keperluan untuk tuanya dan para punggawa yang sedang bersidang di istana malam itu.

Dari sorot matanya yang menampakan kecemasan, para abdi dan pelayan istana tidak terucap sepatah katapun, mereka hanya mampu membatin, ‘Jangan-janga para punggawa ini pada sekongkol dan terlibat, sehingga Sang  Raja cepat-cepat memanggilnya, takut Sang Pemilik Alam Semesta, murka,’demikian batin dalam hati masing-masing para abdi dan pelayan.

Sementara, diluar istana, mulai dari kedai kopi pinggir jalan, restoran mewah, di pojok gang sempit, sampai gedung pencakar langit, rakyat riuh memperbincangkan tertangkap basahnya punggawa institusi hukum, yang disiarkan televisi,secara berulang-ulang, bak sinetron picisan.

Dan bersyukurlah, rakyat dinegeri  ini terlanjur dikenal sebagai rakyat yang ramah-tamah, memilki rasa tepo seliro, ewuh pakewuh, sehingga seburuk dan sebobrok apapun yang terjadi pada para punggawa kerajaan, hanya sebatas  riuh menjadi bahan perbincangan, di warung dan kedai kopi, lantas menguap, hilang, seolah tak pernah terjadi apa-apa.  

Rakyat dibuat semakin bingung, apa sebenarnya yang sedang dimainkan oleh para elit politik, dengan scenario canggih nan rapih, mengalir  deras memenuhi ruang-ruang tamu rakyat seantero negeri melalui layar kaca media elektronik yang sangat sadis mencekoki, dan mencuci otak anak-anak negeri untuk mengikuti apa yang mereka inginkan.

Entahlan, rakyat hanya diam, membisu, apatis pada semua ini….... 

Namun jangan salah, rakyat adalah pemegang kedaulatan di republik ini, ketika melihat mereka yang bertahtah di kursi kekuasaan, sebagai pemegang amanah kedualatan rakyat, terus berfoya-foya dengan kerakusannya, bukan tidak mungkin diam dan membisunya rakyat akan menjadi energi  besar yang mampu menggerakan kekuatan baru untuk merontokan dan menarik kembali amanat yang dititipkannya.(*)

*) Penulis adalah, Anggota Persaudaraan Jurnalist Muslim Indonesia (PJMI)