Jumat, 11 Maret 2011

Ketemu Teman – Teman SMA di RS Cikini


Waktu telah menunjukan pukul 12.00 WIB,pada hari Kamis 10 Maret 2011, ketika acara “Round Table Discussion On Political Situation In The Middle East” di Gedung Majelis Ulama Indonesia (MUI), Jl.Proklamasi,Menteng, Jakarta Pusat, baru saja usai aku ikuti. Ada beberapa nara sumber yang sebenarnya ingin aku wawancara ketika itu, namun karena sudah janjian untuk menjenguk rekan satu SMA yang sedang sakit di RS Cikini, Mas Budi Kantong (begitu biasa kami memanggilnya, padahal nama sebenarnya cukup bagus Budianto-red) akhirnya segala wawancara aku serahkan kepada rekan satu timku, kebetulan aku sendiri sudah mengambil moment  beberapa sesi penting, termasuk para tokoh yang hadir, tidak luput dari jepretan kameraku...aman. Maka dengan terburu-buru akupun segera meluncur ke RS Cikini, berboncengan motor dengan temanku yang lain.
            Memasuki gerbang RS Cikini,ditengah suasana yang begitu terik, beberapa kali aku bertanya sama satpam ruang, K nomor 3 dimana rekan SMA ku Mas Budi dirawat, sebagaimana sms dari rekan-rekanku semalam. Suasana agak ramai karena pas jam besuk, setelah menyusuri lorong-lorong, sesekali melihat setiap ruangan, dengan bangsal berjajar dengan rapi, akhirnya ruang K nomor 3 bisa aku temukan.
            Mba Ning Hartati lebih dahulu sudah ada disana terlihat sedang ngobrol dengan beberapa kerabat Mas Budi, tampaknya baru sampai juga. Pada mulanya aku maupun Mba Ning juga sama-sama pangling, saya pikir juga kerabatnya Mas Budi. Namun setelah memperkenalkan diri rekan satu SMA, kami baru tahu.   
            Senyum Mas Budi masih seperti dulu, dalam kondisi sakitpun tidak terlihat sedih, masih seneng ngobrol dan suka bercanda. ‘Pangling’ (bahasa Jawa,agak lupa-red) lagi-lagi itulah hal pertama kami saling ketemu, setelah sekian puluh tahun kami tidak saling ketemu.          
            “Mas Budi sudah terlihat cerah dan agak mendingan, tapi tolong HP-nya jangan dilihatin, nanti Mas Budi minta, maunya nelpon terus ”kata salah seorang kerabat Mas Budi, ketika kami akan masuk. Kemarin ngamuk, pinginya minta nelpon terus, lanjut kerabat yang lain. Dari informasi kerabat tersebut bahwa Mas Budi sudah lima hari dirawat di RS.Cikini, ‘Gagal Ginjal’, dan harus menjalani cuci darah.
            “Mas Budi, orangnya gak bisa diam, kata salah seorang lelaki yang juga kerabat Mas Budi. Kalau sudah olahraga gak inget waktu, senengnya main badminton terkadang sampai larut malam, mungkin kecapean,”lanjutnya.
            Tidak beberapa lama, datang rombongan lagi, dari jauh aku mengenal wajahnya, Mas Sobingin, Imam dan dua orang lagi aku rada pangling, setelah salaman dan guyonan ala Gombong, aku baru ngeh, ternyata Mas Sasongko (yang baru saja nelpon tadi pas aku dijalan - red) dan Mas Sumar.
            Suasana semakin riuh, Mas Budi tampak senang, senyum khasnya terus mengembang. Tidak beberapa lama kemudian datang satu rekan lagi, Mba Daya Wikarti, dari sosok dan penampilanya yang khas tinggi dan tegap dari jauh sudah bisa dikenali. Bahkan beberapa rekan pada berbisik-bisik,“coba biarin, jangan ditegur dulu, pangling apa tidak”.
Namun wajah Mas Sobingin yang sudah popular, rupanya mudah dikenali pula, maka spontan gaya dan sapaan khas Gombongpun keluar juga. Suasana tambah meriah, apalagi gaya dan canda Mba Daya, Mas Imam dan Mas Sasongko, semakin mengingatkan suasana ketika kita masih di-bangku SMA dulu, tambah gayeng.
            Tidak terasa waktu begitu cepat bergulir, dari jauh dua sosok lelaki berpakaian seragam biru dongker, petugas keamanan RS Cikini datang, menegur kami semua, “Maaf, ya jam besuknya sudah habis, silahkan menunggu diluar,”kata petugas keamanan, sembari mempersilahkan kami semua segera meninggalkan ruangan tersebut. Aduh.......???
            Ketika akan berpamitan, tampaknya Mas Budi sudah mulai ngantuk, tertidur, akhirnya kami pamitan sama kerabat yang menunggunya, menurut informasi istrinya sedang mengurus surat-surat, jadi kami semua tidak ketemu dengan istri Mas Budi.
“Mas Budi sudah dikaruniai tiga orang anak, begitu informasi dari salah seorang kerabat, maklum sudah sekian lama baru pada ketemu, hal pertama yang ditanyakan biasanya ya, jumlah anak.
            Sebelum meninggalkan ruangan,...kami semua berdo’a untuk kesembuhan Mas Budi......’Ya, Alloh berilah kesembuhan dan angkatlah penyakit yang ada pada sahabat dan rekan kami ini. Berikanlah kesabaran dan ketabahan. Mudah-mudahan dibalik semua ini, ada hikmah yang lebih baik bagi diri Mas Budi dan keluarganya,”Amiin.

Bangku Taman Menjadi Saksi

            Setelah diusir secara halus oleh pihak keamanan RS Cikini, akhirnya kami menyingkir keluar, padahal kami masih pada kangenan, apa tega pada mau langsung pulang, dalam hati kami masing-masing. Akhirnya kami sepakat untuk mencari tempat nongkrong. Ditaman RS Cikini, kebetulan ada bangku, dibawah sebuah pohon cukup rindang didepanya terhampar rumput halus, rupanya pihak manjemen RS Cikini, cukup jeli dalam mengatur taman, tertata cukup  rapi..
Disitulah kami duduk-duduk, menumpahkan rasa kangen yang sudah sekian puluh tahun terpendam, ngobrol ngalor – ngidul, sesekali banyolan, kelakar dan guyonan segar meluncur dari kami semua, suasanapun semakin meriah.
Wah, ini sejarah dan moment yang bagus, akhirnya beberapa kali jepretan mengabadikan kami semua, macam-macam ulah dan gayanya, maklum ketemu temen lama..
  Ditengah kami sedang asyik-asyiknya ngobrol, lagi-lagi petugas keamanan berseragam biru dongker datang lagi. Eh...ternyata beberapa orang diantara kami ada yang merokok, petugas menegur bahwa ini area/kawasan bebas rokok, “Dilarang Merokok”. Wah, untung cuma ditegur, kalau didenda suruh bayar dan kena pasal berabeh dah........(kalau tidak salah Mas Sasongko dan Mas Imam yang merokok, ya......). Biasa gaya 87-an masih dipakai,.....!!!
Karena ada kepentingan, Mas Imam terlebih dahulu pamitan, teganya beliau meninggalkan kami semua, lambaian tangan kami semua mengantar kepergian Mas Imam, sembari disaksikan bangku taman dan hamparan rumput hijau, seolah ikut merasakan kerinduan yang ada pada diri kami masing-masing.
Tidak beberapa lama Mas Imam pergi, datang dua rekan lagi Mas Udang dan Mas Sobari. Kali ini Mas Sumar tampak lebih bersemangat, karena kami semua tahu bahwa dua sahabat kami ini, terutama Mas Sobari sejak dulu sangat dekat dengan Mas Sumar.
Suasana tambah semakin meriah, apalagi dari jauh Mas Kasiman (tinggal di Bandung) pingin ikut nimburng juga, walaupun cuma lewat handphone. Kemerihanan semakin menjadi ketika terjadi joke segar dan deal-deal antara Mas Kasiman dari seberang sana dan Mas Sasongko, biasa lagu lama..........kelakar rekan-rekan yang lain.
Hari Kamis, tanggal 10 Maret 2011, bertempat di RS.Cikini, Jakarta Pusat, semoga rekan-rekan dan sahabat-sahabat semua juga tidak lupa mencatatnya dalam buku diary/harian masing-masing. Sejarah telah menentukan bahwa hari itu kami semua bisa bertemu dalam suasana, antara sedih dan bahagia. Sedih, karena salah satu dari rekan dan sahabat kami sedang mendapat ujian dari Tuhan YME, menjalani perawatan di RS Cikini ini, semoga lekas sembuh, dan diberi kekuatan.
Dan bahagia, karena sudah sekian puluh tahun, tiba-tiba seperti mimpi, kami semua bisa bertemu, berkumpul dan saling bercada, guyonan (persis seperti masa lalu) ditempat seperti ini yang tidak pernah direncanakan sebelumnya, apalagi melalui rapat dan undangan, hanya spontanitas lewat sms, facebook saja.
Dan bayangkan saja diantara kami yang hadir saling berjauhan tempat tinggalnya, Mas Sobingin dari Karawang, Mas Sumar dari Purwakarta, Mas Sasongko dari Bekasi, Mba Ning Hartati, dan Mba Daya juga langsung dari Bekasi, rela mencari alasan izin dari tempatnya bekerja. Sedangkan aku, Mas Imam dan Mas Udang dari Jakarta Timur dan Mas Sobari dari Mangga Dua,Jakarta Utara, juga langsung dari tempat kerjaanya.
Inilah rahasaia dan kehendak Yang Maha Kuasa, kita sebagai hambanya hanya bisa berusaha, bersyukur dan menjalaninya. Alhamdulillah. * (catatan kecil Mas Ratman)

Selasa, 10 Agustus 2010

Dalam Malam Diujung Ramadhan


Diujung Malam Dibulan Ramadhan
Ku Bersujud, Munajat Kepadamu Tuhan
Melepas Beban Dalam Kepasrahan
Tak Terasa Air Matapun Bercucuran

Dalam Malam Diujung Ramadhan
Disinari Rembulan Purnama
Berharap Dengan Sepenuh Hati
Mendapat Rahmat Dari Mu Illahi

Satu Malam Yang Lebih Baik Dari Seribu Bulan
Dalam Bulan Yang Penuh Berkah
Menjadi Bukti Kasih Sayang Sang Khaliq
Bagi Kita Hambanya, Yang Daif

            Lailatul Qadar
            Malam Penuh Ampunan
            Dengan Segala Kepasrahan
            Ku Selalu Menyambutmu


Lido Permai, September 2009
Karya : Ratman Aspari


Cerpen : Menjaga Amanat


Sejak kematian Bapak kurang lebih sepuluh tahun lalu, praktis rumah itu dibiarkan kosong tak dihuni lagi. Hal itu bukan karena aku dan ketujuh saudara kandungku tidak mau menempati rumah itu lagi, tetapi lebih dikarenakan kami masing-masing telah memiliki rumah sendiri di Jakarta sebagai kota perantauan kami. Rumah itu akan terasa hidup dan ramai ketika kami semua pulang kampung untuk suatu keperluan atau ketika Lebaran tiba, itupun kalau diantara kami kebetulan mudik semuanya, kenangan-kenangan ketika kami masih kecil nampak begitu jelas disana.
Sepuluh tahun lalu ketika Bapak kami meninggal, beberapa hari menjelang wafatnya, ada sebuah pesan dan amanat agar rumah itu jangan sampai dijual.  
“Apapun alasanya jangan sampai rumah ini dijual, ini adalah milik kita, saksi sejarah perjalanan hidup kita.,” itulah ucapan Bapak yang terbata-bata dalam kondisi sakit beberapa hari menjelang kematiannya, ditengah kerumunan anak-anaknya, famili dan para tetangga yang kebetulan berdatangan.
 Sementara ibu kami telah meninggal terlebih dahulu dibandingkan Bapak, yaitu ketika aku masih duduk di kelas dua SLTA. Sebagai anak bungsu aku banyak mendapat perhatian dari Bapak, bahkan ketika aku masih sekolah, Bapak sering mengingatkan kepadaku dengan berbagai petuah yang sarat makna dan suri tauladan, tutur katanya begitu lembut dan membuat haru setiap yang mendengarnya.
Sebagaimana kebanyakan anak-anak dikampung halamanku, setelah lulus SLTA aku ikut kakaku yang telah berhasil di Jakarta, merantau. Aku berhasil melanjutkan kuliahku dengan biaya sendiri dan bisa bekerja sebagai PNS disalah satu instansi pemerintah, itupun hasil jerih payah sendiri, tanpa menyuap dan mengadalkan koneksi dari saudara maupun relasi.

***
Sebuah bangunan yang memiliki ciri khas budaya Jawa Tengah yaitu Rumah Joglo terletak di perkampungan dimana kami dilahirkan sebuah kota kecil di Jawa Tengah yang begitu damai. Bangunan itu masih tetap berdiri kokoh, halamannya luas terlihat bersih dengan hamparan pasir halusnya. Pohon-pohon rindang disebelah kiri dan kanan serta bagian belakang rumah seolah menambah asri, dan sejuk dipandang mata, sementara kicau burung dan semilir angin seolah turut menyapa kepada siapa saja yang kebetulan singgah dirumah itu. Aura kedamaian seolah terasa benar disana, jauh dari hingar bingar dan kebisingan seperti yang aku alami dalam aktivitas keseharianku di kota metropolitan, penat dan menyesakan.
Dibalik ketegaran dan kewibawaaan yang terpancar dari rumah tua itu banyak menyimpan kenangan bagiku dengan tujuh saudaraku. Pada mulanya rumah kami  hanyalah sebuah bangunan yang sangat sederhana. Dengan jerih payah Bapak akhirnya rumah itu bisa diperbaiki sebagai sebuah bangunan berbentuk Joglo yang cukup representatif pada masa itu.
 Masa-masa kecil bagi kami merupakan masa yang penuh keprihatinan, walau begitu kehidupan keluarga kami masih tergolong lumayan dibanding keluarga yang lain. Profesi Bapak sebagai seorang guru Sekolah Dasar kala itu, masih cukup lumayan dibanding beberapa teman kami yang orang tuannya sebagai buruh tani.
Perubahan kampung kami semakin hari semakin terasa akhir-akhir ini, seolah mengikuti arus modernisasi, apalagi setelah banyak diantara anak-anak sebaya kami yang juga merantau dan mencari kerja ke daerah lain, ke kota besar, bahkan tidak sedikit yang ke luar negeri sebagai TKI/TKW. Hasil mereka merantau banyak dikirim kepada orang tuanya untuk membangun rumah, kini di kampung kami hampir tidak lagi terlihat rumah yang kumuh, terbuat dari gedek dan beratap rumbia.
Walaupun masih ada, itupun sekedar mempertahankan nilai-nilai budaya sebagai rumah adat Jawa yang berbentuk Joglo, seperti rumah kami. Rumah mereka rata-rata dibangun permanen dengan beraneka model yang tidak kalah indahnya dengan rumah-rumah real eastet di kota metropolitan, apakah ini pertanda kemakmuran, atau sekedar gengsi warga perantauan, entahlah, yang jelas perubahan telah terjadi dikampung kami.

***
Sebagai seorang guru Sekolah Dasar Bapak begitu dihormati di kampungnya, dalam setiap acara dan pertemuan apapun Bapak selalu mendapat tempat terhormat diantara tamu-tamu lainnya, paling tidak mendapat keistimewaan untuk duduk dibarisan bangku paling depan, sejajar dengan pejabat tingkat desa dan kecamatan. Dan dimanapun Bapak berada setiap orang yang bertemu akan memanggilnya dengan sebutan ‘Pak Guru’. Bagi kami sebutan tersebut merupakan bentuk penghargaan dan penghormatan yang tulus dari warga mayarakat desa atas profesi Bapak yang begitu luhur. Hal tersebut jarang sekali aku temukan dalam strata masyarakat kota metropolitan yang nota bene mengaku modern dan intelek, namun kurang bisa menghargai sebuah prestasi, betapa pretasi tersebut begitu luhur.
Sementara ibu merupakan sosok wanita Jawa yang lemah lembut dan begitu sabar mengurus kedelapan anak-anaknya. Tidak ada sedikitpun keluh kesah dalam diri seorang ibuku, walaupun pada waktu kami masih kecil kondisi ekonomi kami bisa dikatakan hanya pas-pasan ibu tetap sabar dan tidak banyak menuntut kepada Bapak, seolah ibu mengerti betul bahwa materi bukanlah satu-satunya faktor utama untuk sebuah kebahagiaan.
Hal itulah yang membuat sosok Bapak sebagai seorang PNS, pegawai kecil dikampung, dikenal sebagai sosok yang jujur dan taat, walaupun serba kekurangan, tak ada selintaspun dalam pikiran Bapak untuk berbuat curang atau korupsi. Atas keuletan dan ketekunannya itulah karier Bapak bisa mencapai kedudukan sebagai Kepala Sekolah, itupun diraih karena didasarkan pada prestasi dan pengabdiannya, bukan dengan manipulasi dan menyuap, seperti yang banyak dilakukan oleh orang-orang modern di kota metropolitan ini.
Sementara Ibuku begitu telatenya mendampingi kami, banyak petuah dan nasehat yang begitu bermanfaat ketika kami telah dewasa dan kini tinggal di kota metropolitan yang dikenal garang dan angker. Bagaimana ibu mewanti-wanti kami agar mengerti tentang tata susila, sopan santun dan kejujuran yang kini sudah mulai pudar dan dilalaikan banyak orang. Ternyata wejangan dan petuah-petuah ibuku tidak pernah lekang ditelan zaman, walaupun ibu sendiri telah berpulang kealam baka.

***
Tidak terasa linangan air mata dan bulir-bulir bening menetes dari pelupuk mata kami masing-masing. Setelah selesai berdo’a bersama ketika kami semua pulang kampung dan berkumpul dalam rangka mudik Lebaran tahun ini, kami semua telah sepakat untuk berkumpul, berlebaran di-kampung halaman, dirumah tua peninggalan kedua orang tuaku.
Kami semua merasa terharu, seolah-olah dari kejauhan kedua orang tua kami, Bapak dan Ibu dari alam baka menyaksinkan betapa anak-anaknya masih masih begitu kokoh dan setia dalam menjaga amanat dan petuah yang  pernah diucapkannya dirumah tua yang ditinggalkanya.
Rumah tua itu benar-benar menjadi saksi sejarah yang tak pernah terputus, walupun telah lama ditinggal oleh sang pemiliknya. Sementara dari balik tirai pembaringanya dialam baka sana kedua orang tua itupun tersenyum bangga, karena anak-anaknya masih tetap sebagai sosok anak desa yang lugu, anak kampung yang tak  tercemar oleh polusi debu-debu kehidupan metropolitan yang sombong dan angkuh.
 Diluar terdengar gemerisik dedaunan saling berdansa ria, diiringi semilir angin yang melantunkan melodi nan indah. Samar-samar bayangan Bapak dan Ibuku dengan pakaian putih bersih saling bergandengan mesra, seraya melambaikan tangan sembari tersenyum kepada kami anak-anak dan cucunya dengan perasaan yang gembira, riang dan penuh keceriaan, pertanda amanatnya untuk menjaga rumah tua itu, telah dipenuhinya. *
Oleh : Ratman Aspari

Lido Permai, Juli 2009

Tahajud


Malam Semakin Hening
Bunyi Jangkrik, Begitu Mengusik
Mendendangkan Syair Lagu Nan Asyik
Gemerisik Angin Malam, Membelai Dedaunan

            Di Ujung Sepertiga Malam
            Ku Tunaikan Kiyamul Lail
            Ku Sanjung Asma-Mu Yang Agung
            Bergetar Bibir Kumandangkan Dzikir

Sunyi Malam Semakin Senyap
Hening, Khusu dan Syahdu
Semilir Angin Malam Mengusap Kulitku
Lantunan Dzikir Semakin Syahdu

            Kepasrahan Yang Tak Terlukiskan
            Semuanya Tunduk memuji-Mu
            Semuanya Menyatu
            Dalam Jiwa Yang Bersih.

Lido Permai, 30 Nopember 2009
Karya : Ratman Aspari

Cerpen : Cita-Cita Anaku


Setiap ditanya tentang cita-citanya, Upik anakku satu-satunya hanya menggelengkan kepalanya, entah apa maksudnya. Sebagai orang tua tentu saja Aku dan Istriku cukup galau dengan kondisi seperti ini. Normalnya anak seusianya tentu dengan lantangnya ketika dihujani pertanyaan tentang cita-citanya.
“Mau jadi apa kalau besar nanti, Nak….?” 
Ada yang menjawab, “Mau Jadi Dokter”,
“Mau Jadi Guru”,
“Mau Jadi Pilot”,
Dan ada juga yang mau “Jadi Gubernur”
Dan lain sebagainya.
            Macam-macam jawabannya, tentu saja sebagai orang tua kita akan merasa senang dan bangga. Paling tidak itu bisa menjadi motivasi bagi mereka kelak, untuk bisa meraih impiannya, begitulah pikiran kita sebagai orang tua.
            Namun tidaklah demikian dengan Upik, apakah ia tidak memiliki cita-cita dan harapan untuk masa depannya, apa ia tidak memiliki semangat, ambisi dan impian-impin luhur tentang masa depannya. Padahal untuk ukuran anak usia empat setengah tahun tentu sedang lucu-lucunya ketika ditanya tentang keinginan dan cita-citanya sebagaimana anak-anak sebayanya.
            Kondisi anakku yang kurang bersemangat untuk menyampaikan cita-citanya tersebut, terus terang cukup meresahkan keluarga kami. Bahkan Istriku berkali-kali menyarankan agar anaku dibawa ke-orang pinter atau ke psikolog untuk sekedar konsultasi, jangan-jangan ada yang kurang beres padanya. Namun sejauh ini aku tidak pernah memenuhi permintaan Istriku tersebut. Apalagi membawahnya ke orang pinter, dukun, klenik atau sejenisnya, itu semua bagiku tidak pas dengan syariat yang aku pegang teguh.
            “Persoalan anaku, sebenarnya bukan persoalan yang begitu serius, mungkin saja Upik belum punya pandangan atau gambaran apa sih cita-citanya kelak, atau hanya malas saja  untuk menjawabnya,” itu alasanku.
            Dengan adanya perbedaan pandangan antara Aku dan Istriku tentang keberadaan Upik, rupanya menimbulkan persoalan yang sedikit rumit diantara kami berdua. Bahkan akhir-akhir ini Istriku sering uring-uringan, tanpa sebab yang jelas.  
             Pada mulanya aku menganggap persoalan Upik, hanya persoalan sepele untuk anak-anak seusianya, namun ternyata terus menggelinding menjadi persoalan yang cukup serius, dengan puncak kemarahan Istriku yang luar biasa.
            “Aku hanya ingin anaku memiliki cita-cita, punya harapan yang luhur untuk masa depannya” ucap istriku, lirih.
            Setelah berbagai upaya dilakukan, ternyata Upik tetap bungkam tak sepatah katapun yang keluar ketika ditanya tentang cita-cita dan harapannya dimasa depan. Akupun mulai gundah gulana, sementara Istriku lebih sering melamun, entah apa yang dipikirkannya, dalam keseharianya menjalankan aktifitas kami merasa tak bersemangat, seolah ada yang aneh. Ada sesuatu yang hilang dalam kehidupan ini.
Cita-cita dan harapan yang luhur seharusnya dimiliki oleh setiap orang, termasuk oleh anaku dan generasi bangsa ini, dengan lebih bersemangat untuk meraihnya, mewujudkannya melalui keratifitas dan karya-karyanya yang terukir indah, sehingga akan dikenang sepanjang masa dalam kehidupannya.
Diam-diam, Aku sendiri juga sering termenung, melamun tidak ubahnya dengan Isriku. Dalam hati kecilku sebenarnya ada rasa cemas dengan kondisi Anaku yang seolah-olah tidak mempunyai cita-cita dan harapan.
 
* * *

             Hari berganti hari, minggu berganti minggu, persoalan cita-cita anaku seolah lenyap ditelan kesibukan dan aktifitas keseharian, Aku dan Istriku tidak lagi mempersoalkannya, semua berjalan apa adanya, seolah tak pernah ada persoalan yang serius, hilang, lenyap begitu saja.
            Hari Sabtu kami sekeluarga diundang oleh kerabat yang tinggal di Cakung, Jakarta Timur untuk suatu acara pesta perkawinan. Dari Cigombong, Bogor  menggunakan bus antar kota jurusan Sukabumi – Pulogadung kami sekeluarga berangkat, pagi yang cerah, perjalanan yang belum terusik oleh kemacetan terasa begitu nyaman.
            Seperti biasa bus keluar dari jalur tol, turun di sekitar perempatan Cempaka Putih. Kata orang daerah ini terkenal rawan, menjadi pangkalan bagi anak jalanan dari berbagi usia, mulai dari anak-anak, remaja sampai orang tua berkompetisi untuk sekedar mencari rejeki disini. Macam-macam aktifitas mereka, ada yang menjajakan berbagai dagangan, sekedar membersihkan kaca mobil dengan kemoceng, mengamen dengan berbagai alat musik, bahkan yang tidak memiliki alat musikpun bisa sembari tepuk tangan saja, sering pula terjadi kekerasan, kejahatan disekitar sini.
Yang paling menyesakan dada, menyaksikan realita kehidupan diperempatan Cempaka Putih ini adalah anak-anak dibawah umur yang ikut bergelut mencari rejeki disini, mereka anak-anak lugu yang belum tahu apa-apa, tetapi harus bergelut untuk mendapatkan rupiah yang tidak sebanding dengan resiko yang ditanggungnya.
Kehidupan disini begitu keras, dengan dalih kemiskinan, sulitnya lapangan kerja mereka tega mengekploitasi anak-anak yang masih dibawah umur, yang belum memiliki dosa, anak-anak lugu dan lucu, generasi bangsa yang malang, semuanya memang serba dilematis.
Seorang anak perempuan, usianya kira-kira sebaya dengan Upik anaku, pakaiannya kumal, sembari menenteng kaleng kecil yang entah diisi dengan apa, yang jelas baginya bisa dijadikan sekedar alat musik yang bisa untuk mengiringinya menyanyi. Lagu yang dinyanyikannya terasa sumbang, para penumpangpun terlihat enggan untuk mendengarnya, lantas disambung dengan sebait pusisi yang cukup menyentuh. Puisi itu berjudul ‘Cita-Citaku’
Dalam puisinya anak perempuan pengamen kumal itu, ia menyebutkan, bahwa dirinya tidak pantas menyebutkan cita-citanya, tidak pantas anak seperti dirinya memiliki harapan-harapan, bahkan untuk sekedar bermimpi saja rasanya hampa, tak pernah ia mendapatkan mimpi-mimpi indah tentang kehidupan yang nyaman dinegeri yang kaya raya, gemah ripah loh jinawi ini.
Puisi anak perempuan pengamen kumal itu, benar-benar menyentuh, tak terasa seolah membuka mata hatiku, Istriku yang duduk disampingku beberapa kali menyapu air matanya dengan sapu tangan merah jambu yang selalu digenggamnya, sementara Upik anaku terus menatap pengamen itu, tanpa berkedip, entah apa yang ada dalam pikirannya.
Perjalanan sampai terminal Pulogadung hanya tinggal beberapa kilometer lagi, namun perjalanan tersendat akibat padatnya arus lalulintas, tidak sedikit angkutan kota yang seenaknya saja ngetem, menurunkan penumpang dan memutar sembarangan, hal itu terjadi begitu saja, tanpa ada yang merasa bersalah untuk melanggar aturan, apalagi merasa berdosa dihadapan Sang Khaliq.  Sehingga semuanya menjadi begitu lambat, hawa panas mulai mengusik.  Sementara kami bertiga masih tetap membisu, bungkam, meresapi sebait puisi pengamen perempuan kecil yang telah turun entah kemana.
Seolah apa yang selama ini menjadi problem pada keluarga kami, terutama pada Upik anakku yang enggan menjawab cita-citanya, semuanya terjawab sudah. Dalam hati kecil Aku bertanya-tanya, apa jati diri bangsa ini sudah begitu rapuh, generasi yang malang seperti anaku, dan teman-teman sebayanya, tak mampu lagi menorehkan cita-citanya yang luhur. Tiba-tiba Istriku menyandarkan kepalanya kebahuku, sembari tersenyum, entah apa yang ada dalam senyumanya. (*)
Karya : Ratman Aspari
Lido Permai, Juli 2009

Jiwa Yang Lalai


Takbir Berkumandang
Bedug Bertalu-Talu
Semua Hamba Bersuka Cita
Menyambut Hari Kemenangan

            Allhou Akbar, Allohu Akbar
            Segenap Jiwa Yang Lalai .......
            Sibuk dengan Kesombongan Dirinya
            Tak Lagi Peduli Dengan Hari Kemenangan

Segenap Jiwa Yang Lalai ........
Terus Membuncar Dengan Seonggok Kemungkaran
Hari Kemenganan, Tak Ubahnya Jadi Tradisi Semata
Kata Maaf Sebatas Bibir, Tak Merasuk Dalam Kalbu

            Wahai Segenap Jiwa Yang Lalai ......
            Sampai Kapan Engkau Umbar Nafsu Angkaramu
            Tak Sayangkah Engkau Pada Jiwamu
            Hingga Rohmu Hitam, Busuk Aromanya

Matahari Sore Mulai Terbenam,
Pertanda Hari kan Malam
Wahai Sgenap Jiwa Yang Lalai .........
Tiada Mahluk Yang Kekal Didunia Fana Ini

Lido Permai, September 2009
Karya : Ratman Aspari

Negeri Dirundung Bencana


Duh, Gusti Yang Maha Agung
Hamba Mohon Beribu Ampunan-Mu
Karma Apa Yang Engkau Timpakan Pada Negeri Kami
Hingga Bocah-Bocah Tak Berdosa Jadi Korban

         Duh Gusti Yang Maha Agung
         Ujian Dan Derita Terus Menerpa Negeri Kami
         Tsunami, Gempa Bumi, Tanah Longsor, Banjir, Kabut Asap
         Tiadakah Belas Kasihan Barang Sejenak Bagi Kami 

Sebagai Rakyat Yang Papa
Kami Hanya Bisa Memohon Ampunan-Mu Ya Rab.
Sebagai Rakyat Yang Papa
Kami Tak Punya Kekuatan, Untuk Menolak Semua Bala

         Kami Hanya Pasrah
         Mengharap Ridho dan Kasih Sayang-Mu
         Kiranya Semua Ini Bentuk Kasih Sayang-Mu
         Hamba Hanya Pasrah, Dalam Relung Kasih Sayang-Mu.

Ya, Rab, Semoga Semua Ini,
Pertanda Kasih Sayang-Mu
Kami Sadar, Terlalu Banyak Dosa
Pada Diri Hamba, Selama Ini.

Lido Permai, Nopember 2009
Karya : Ratman Aspari